Monday, June 8, 2009

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA: Manajemen dan Implementasi K3 di Tempat Kerja



Pada bulan Juli 2008, buku Keselamatan dan Kesehatan Kerja: Manajemen dan Implementasi K3 di Tempat Kerja telah terbit dan saya publikasikan secara luas. Buku ini terdiri dari 12 Bab; 232 halaman dengan penerbit Harapan Press Surakarta., ISBN 978-979-18144-0-9. BAHASAN BUKU INI TENTANG: 1. DASAR-DASAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA, 2.PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DALAM BIDANG K3, 3.MANAJEMEN PERUBAHAN DALAM TRANSFER TEHNOLOGI, 4. KESELAMATAN SISTEM KERJA atau JSA, 5.AUDIT SMK3, 6. INTERNAL AUDIT SMK3 Penjelasan dan Verifikasi Kriteria Audit Tingkat Awal, 7. INSPEKSI TEMPAT KERJA, 8. INVESTIGASI KECELAKAAN KERJA, 9. MANAJEMEN POTENSI BAHAYA DI TEMPAT KERJA, 10. ISU ALAT PELINDUNG DIRI, 11. P2K3 dan 12. TRAINING K3 SEBAGAI SUATU SISTEM.
Buku ini saya peruntukkan bagi kalayak umum sebagai kunci untuk memasuki pemahaman tentang K3 secara utuh, terkhusus bagi mahasiswa program Hyperkes, Keselamatan Kerja, teknik Industri, ergonomi dan kesehatan kerja serta praktisi K3 perusahaan. Bagi yang berminat dapat memesan secara langsung melalui e-mail maupun telp. alamat e-mail: tarwoko@gmail.com atau kontak melalui HP 081329755335.
HARGA SATUAN: UNTUK JAWA: Rp. 65.000,- DAN LUAR JAWA Rp. 70.000,- (TERMASUK BIAYA KIRIM).

CARANYA: TRANSFER MELALUI REKENING BANK BCA. A/N. TARWAKA, M.ERG. NO.REK. 0770354129. fax bukti transfer anda ke No. 0271-891759. Sertakan alamat anda secara lengkap dan buku akan segera dikirim ke alamat anda.
Smoga membawa manfaat, Amien. Thanks any support for publishing this book.


DAFTAR ISI

I. DASAR-DASAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)

Keselamatan Kerja; Kecelakaan Kerja; Sebab-sebab Kecelakaan Kerja; Potensi Bahaya; Klasifikasi Kecelakaan Kerja; Kerugian Akibat Kecelakaan Kerja; Pencegahan Kecelakaan Kerja; Evaluasi Kinerja Keselamatan Kerja; Kesehatan Kerja; Penyakit Akibat Kerja; Poin-poin Penting Dalam K3.

1

II. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DALAM BIDANG K3
Undang-Undang Dalam Bidang K3; Peraturan Pemerintah; Peraturan dan Keputusan Menteri dalam Bidang K3; Peraturan Menteri Bidang Keselamatan Kerja; Peraturan Menteri Bidang Kesehatan Kerja; Peraturan Bidang Higiene Perusahaan.

28

III. MANAJEMEN PERUBAHAN DALAM TRANSFER TEHNOLOGI
Tantangan Dalam Pilih dan Alih Tehnologi; Konsep Transfer Tehnologi; Pendekatan Partisipatori; Antisipasi Dampak Pemakaian Tehnologi; Tehnologi Otomatisasi; Strategis Bisnis.

43

IV. KESELAMATAN SISTEM KERJA
Faktor-faktor Keselamatan Sistem Kerja; Prinsip Identifikasi Potensi Bahaya; Prinsip Pengendalian Potensi Bahaya; Tahapan Analisis Keselamatan Pekerjaan/Tugas; Daftar Periksa Potensi Bahaya untuk Keselamatan Sistem Kerja.

61

V. AUDIT SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (AUDIT SMK3)
Pendekatan Sistem Manajemen K3; Penerapan Sistem Manajemen K3; Tujuan dan Sasaran Audit SMK3; Manfaat Audit SMK3; Sertifikasi Tingkat Pencapaian Audit SMK3; Proses Pelaksanaan Audit SMK3; Pengembangan SMK3.
78

VI. PENILAIAN DIRI / INTERNAL AUDIT SMK3 Penjelasan dan Verifikasi Kriteria Audit Tingkat Awal
Langkah Memulai Penilaian Diri; Pelaksanaan Penilaian Diri Audit.

92

VII. INSPEKSI TEMPAT KERJA
Tujuan Program Inspeksi K3; Inspeksi K3; Inspeksi Informal; Inspeksi Rutin; Inspeksi Khusus; Laporan Inspeksi; Formulir Inspeksi.

124

VIII. INVESTIGASI KECELAKAAN KERJA
Landasan Hukum; Investigator; Langkah Investigasi Internal; Tindakan Awal Bila Terjadi Kecelakaan; Tindakan Perbaikan; Estimasi Beaya Kerugian Kecelakaan; Laporan Kecelakaan Kerja

140

IX. MANAJEMEN POTENSI BAHAYA DI TEMPAT KERJA
Pendekatan Manajemen Hazard; Proses Manajemen Hazard; Identifikasi Hazard; Penilaian Resiko; Pengendalian Resiko.

167

X. ISU ALAT PELINDUNG DIRI
Pemenuhan terhadap peraturan perundangan, pemilihan dan penggunaan, jenis-jenis, pemeliharaan dan penyimpanan alat pelindung diri.

181
XI. PANITIA PEMBINA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (P2K3)
Mengapa P2K3 Diperlukan; Apa Syarat Pembentukan P2K3; Siapa yang Harus Menjadi anggota P2K3; Bagaimana Langkah Membentuk P2K3; Apa Fungsi dan tugas P2K3; Pertemuan Anggota P2K3; Bagaimana P2K3 Bekerja secara Efektif; Bagaimana P2K3 Mengatasi Masalah.

191

XII. TRAINING K3 SEBAGAI SUATU SISTEM
Kerangka Perundangan Training K3; Training Sebagai Suatu Sistem; Identifikasi Kebutuhan Training; Perencanaan Program Training; Pengembangan Program Training; Penyelenggaraan Training; Evaluasi Training.

202
DAFTAR PUSTAKA
217
TENTANG PENULIS
226

Read More..

Sunday, February 8, 2009

ERGONOMI DAN REDESAIN TEMPAT KERJA

A BETTER PLACE TO WORK AND HIGHER PRODUCTIVITY
RELATED WITH:
*MATERIALS STORAGE AND HANDLING?

*WORK STATION DESIGN
*CONTROL OF HAZARDOUS SUBSTANCES
*WORK-RELATED WELFARE FACILITIES

why not?...
think it..
talk it and..
do it right now!

productivity is an aims in all industries, but often difficult to get higher productivity with many reasons ofcourse. we must know... productivity is different with another one... product.
please try this lessons step by step and dont be confused!

any difficulties please contact me any ways...


BETTER ORGANIZED STORAGE

1. IF IN DOUBT- TAKE IT OUT
- Consider each tool, each piece of raw material, each component or spare part.
- Is it in use?
- Is it really needed?
- If not, take it away!!!

2. AVOID PLACING MATERIALS ON THE FLOOR
- The best way to stop bad habit is to prohibit placing anything on the floor and to monitor strictly the execution of the rule.

3.SAVE SPACE BY INTRODUCING MULTI-LEVEL RACKS

4.PROVIDE A “HOME” FOR EACH TOOL AND WORK ITEM



FEWER AND SHORTER TRANSPORT AND HANDLING OPERATIONS

1.THE MORE YOU USE IT – THE CLOSER IT SHOULD BE- The way to resolve this problem is to rank all tools and work items in order of frequency of use and to allocate their places accordingly

2.USE MOBILE STORAGE
- A god first is to design pallets or containers to move several items at the same time
- Pallets, containers or racks on wheels can be easily moved from one workstation to another or to the warehouse
- To save storage space, the racks should be standardized and it should be possible to stack them

3.MAKE YOUR EQUIPMENT EASY TO MOVE WHERE IT IS NEEDED

FEWER AND MORE EFFICIENT LIFTING OPERATIONS

1. DON’T LIFT LOADS HIGHER THAN NECESSARY: Use Mechanical Aid Assistances

- In selecting materials handling devices and methods of manual carrying, give preference to the ones with a minimum of elevation of the load

2.MOVE MATERIALS AT WORKING HEIGHT

- We can’t always avoid the need to lift heavy goods.

- One possibility is to install a suspended or floor-mounted transport system of appropriate height, where heavy loads are moved manually or by gravity between workstation

- Another solution is to employ mobile work-stands

3.MAKE LIFTING MORE EFFICIENT AND SAFER
- A heavy load suspended in the air is always a danger, especially in a small overcrowded workshop. Preference should be given to floor-based lifting devices which use the minimum necessary elevation


WORK STATION DESIGN
- A well designed workstation is important for productive work

- It the worker can do so quickly and easily, productivity will be higher and quality will be better

1.KEEP MATERIALS, TOOLS AND CONTROLS WITHIN EASY REACH

- Time and effort are saved by placing materials, tools and controls within easy reach of the worker

- Long reaches mean a loss of production time and extra effort

- The more you use it, the closer it should be

- If material are supplied in boxes or bins or on pallets or racks, these should be placed within easy reach and at an appropriate height

2.IMPROVE WORK POSTURE FOR GREATER EFFICIENCY

- When a difficult work position is required, work not only takes longer but also leads quickly to fatigue
- The measures help to avoid difficult work position:
- Place materials, tools and controls in optimum reach
- Use platform so that short workers can be at the proper work height
- Provide good chairs of correct seat height
- Provide enough leg space

3.IMPROVE DISPLAYS AND CONTROLS TO MINIMIZE MISTAKES

- An effective way to avoid such mistakes is to ensure that each worker can see and identify clearly what he/she is working on.

- Keep things which are seen, touched or controlled (visual displays, materials, switches, etc) within easy sight of worker

- Make displays and controls easily distinguishable and

- Use good lighting


PRODUCTIVE MACHINE SAFETY
1. GIVE YOUR MACHINES A PRODUCTIVITY CHECK USING THE CHECKLIST

2. ELIMINATE THE HAZARD OR INSTALL GUARDS OR AS A LAST RESORT USE PPE ALWAYS IN THIS ORDER

3. PURCHASE SAFE MACHINES

4. USE FEEDING AND EJECTION DEVICES TO INCREASE PRODUCTIVITY AND REDUCE MACHINE HAZARDS

5. USE THE RIGHT TYPE OF GUARD

- Machines have different types of action and production requirement
- They also have different types of danger
- Its important to match guards both to the requirements of the machines and to the specific nature of the hazards involved


CONTROL OF HAZARDOUS SUBSTANCES

1.REPLACE A DANGEROUS SUBSTANCE WITH A LESS ONE

2.USE LIDS, COVERS, MAINTENANCE AND ISOLATION OF PROCESSES TO CONTROL HAZARDS AND REDUCE LOSSES

3. SAVE ENERGY USED TO OVERHEAT CHEMICAL

4. CLEAN PROPERLY- DON’T SPREAD DUST

5. MAKE LOCAL VENTILATION COST-EFFECTIVE

6. USE FANS PROPERLY

7. USE PUSH AND PULL VENTILATION

8. AS A LAST RESORT- USE PERSONAL PROTECTIVE EQUIPMEN [PPE]

9. DON’T EAT AND BRING HOME DANGEROUS SUBSTANCES

10.etc.


WORK-RELATED WELFARE FACILITIES

1.PROVIDE DRINGKING WATER
2.PROVIDE SANITARY FACILITIES
3.BE READY FOR EMERGENCY
4.HEALTH SERVICES
5.CANTEENS
6.PROVIDE TRANSPORT FACILITIES

7.PROVIDE RECREATION FACILITIES

8.CHILD-CARE FACILITIES, IF POSIBLE

9.FACTORY DAYS

10.etc.

Read More..

Friday, February 6, 2009

LIGHTING AT WORK [ APLIKASI PENERANGAN DI TEMPAT KERJA]

APPLICATIONS OF LIGHTING AT WORK
When people ask to us, CAN LIGHTING AFFECT HEALTH AND SAFETY?
The answer is YES, Ofcourse Lighting at work can affect health and safety.
try to check and identify the lighting problems in your workplace right now.
any comments and questions even critic contact me soon.

Lighting at work can affect health and safety by:

1. Making it difficult to see and recognize hazards in the workplace

2. Causing or contributing to eye strain, result from:
Performing very fine visual work for extended periods
Glare, reflections and shadows
Reading poorly printed or written text
Poor lighting
Looking for too long at the same thing
Excessive focusing and re-focusing of the eyes
Looking at dark things and then bright things frequently

3. Adopting stressful postures at work to see properly

4. Causing a range of other problems that can directly or indirectly affect health and safety:
Flickering Lights
Adapting from bright to dim lighting and dim to light
Ultraviolet light and infra red light, under certain conditions may cause significant damage to the eyes and skin
Other health effects such as: computer screens lead to eyestrain, etc.


WHEN PEOPLE ASK, HOW SHOULD LIGHTING AT WORK BE APPROACHED ?
THE answer are:

The General Approach Consist of Three Main Steps:
1. Design the workplace to avoid lighting problems
2. Identify and assess lighting problems and difficulties in the workplace
3. Develop, implement and evaluate solutions to lighting problems

STEP 1. DESIGN

- Lighting and the lighting needs of employees should always be considered during the design of buildings, work areas, work stations, machinery, tools and equipment

- Its quite possible to design specific lighting installations to achieve required illumination levels to control glare and shadows, and to satisfy health and safety requirements

STEP 2. IDENTIFYING AND ASSESSING LIGHTING PROBLEMS

- Workplace consultation
- Using accident reports and investigations
- Using consultant
- Assessing lighting levels, glare, reflections and shadows
- Considering other factors such as posture, visual rest, color, time and people with visual defects


Then, how we assess Lighting Levels?

1. Lighting levels depends on The Amount and The Quality of Lighting
- The quality of the lighting depends on:
- The number and types of lights in use
- The types of light fittings in use
- The position of the lights
- How colors appear under them and
- How well the lighting system is maintained

2. The amount of light in an area can be measured by Lux-meter

Assessing Glare
- Glare occurs when one part or area of what we are looking at is much brighter that everything else that we can see
- When glare prevents us from seeing things properly it is called Disability Glare
- Glare may just causes annoyance, discomfort, irritation or distraction the situations is called DISCOMFORT GLARE
- Sources of glare at work are: windows and skylights, the sun, lights, and very bright, shiny or glossy surfaces that reflect light sources

Assessing Reflections

- Sometimes the thing that is being looked at can’t be seen properly because of reflections

- When they interfere with visibility they are called VEILING REFLECTIONS


Assessing Shadows

- Shadows in the workplace can be a problem by creating too much contrast in the work area and may contribute to glare problems

- They can reduce the visibility of work and a poor posture to see the work at hand may be adopted


STEP 3. DEVELOPING, IMPLEMENTING AND EVALUATING SOLUTIONS TO LIGHTING PROBLEMS

Possible control measures or solutions to lighting problem are:
1. Modify The Existing Lighting System:
Lowering or raising lights
Changing the orientation or position of lights
Increasing or decreasing the number of lights
Changing the type of light
Changing the fittings or housing
Changing the coloring of the lights used

2. Modify The Task
Bring it closer to the eye so the detail can be seen
Providing a magnifier or similar aid
Changing the position of the work to avoid shadows, reflections, sources of glare or visual distractions
Modifying the task so it can be seen better, e.g. increasing the size of lettering and numbers on dials

3. Change The Workplace Surface

4. Maintain and Clean Lights and Lighting fittings

EMERGENCY LIGHTING

- A flashing light alarm may convey important information such as the type of hazards present

- Illuminated EXIT lights help in the evacuation of people from dangerous situations

- Good light alarms can tell us what’s wrong and what to do in emergencies

- Independent emergency lighting systems exits to provide minimum safe lighting levels when the normal lighting system fails

Read More..

CHECKLIST KEBISINGAN

NOISE RISK IDENTIFICATION CHECKLIST
this checklist is really simple tobe used
when we go to the noisy workplace, but we don't have sound level meter, don't be confused, take it easy and use this checklist to identify any noise in your work place.
do it now and get the excelent result!
any diffuculty please contact me.


NOISE RISK IDENTIFICATION CHECKLIST
Description of Work Location:
_________________________________
_________________________________
Task Work Station:
_________________________________
_________________________________
Assessed by:_____________________
Date of Assessment:_______________
SHE Representative:_______________

No Questions (tick YES or NO)

1 Is there difficulty in communication between two employees at 1 meter distance? [Difficulty means that the speaker must raise his/her voice or that listener may not understand what is said]
2 Do employees in the area notice a reduction in hearing over the course of the day? [This reduction might not be noticed until after work]
3 Do employees experience of ringing in the ears?
4 Are any long term employees hard of hearing?
5 Are hearing protection device provided?

6 Are signs indicating that hearing protection device should be worn, posted at the entrance or in the work area?
7 Does the noise in any part of the workplace sound as loud or louder than 85 dbA?
8 Does the company measure the noise regularly and keep the past noise recorded in the good file?
9 Have there been any industrial deafness claims?
10 Does any equipment and machine have noise information including labels that indicate noise levels equal or greater that TLV?
11 Are there any existing noise protection implemented in the workplace, except PPE?
12 Do the results of audiometry indicate that any past or present employees have hearing loss?

Read More..

KUESIONER PENGUJIAN KELELAHAN UMUM

PENGUJIAN KELELAHAN UMUM
Kuesioner ini saya entrikan ke dalam blog ini untuk memenuhi permintaan dari rekan-rekan saya yang akan mengadakan penelitian atau membuat tugas akhir. smoga bermanfaat.
kuesioner ini ditujukan untuk menilai kelelahan secara umum yang mencakup tiga kelompok kelelahan yang dialami pekerja yaitu pelemahan kegiatan, pelemahan motivasi dan pelemahan secara fisik. kuesioner ini saya adopt dari IFRC Japan (INDUSTRIAL fATIGUE reaserch Communittee)yang telah banyak saya gunakan untuk meneliti efek pekerjaan fisik terhadap munculnya kelelahan.
kuesioner ini juga bersifat subjektif (Subjective feelings of fatigue) artinya sangat tergantung dari responden yang sedang diteliti.
Selanjutnya kita dapat mengembangkan sendiri dalam penilaian dan skoring, anda dapat menggunakan skala likert ataupun jawaban 'YA' dan 'TIDAK' yang selanjutnya dianalisis dengan spss untuk menguji kemaknaan perbedaan.
kelemahan kuesioner ini, tidak dapat menentukan klasifikasi tingkat kelelahan yang dialami pekerja, untuk itu pengujian harus dilakukan selama dua kali yaitu PRE DAN POST TEST.


KUESIONER KELELAHAN UMUM

I. IDENTITAS PERSEORANGAN
(Tulislah identitas saudara atau coret yang tidak perlu)

1. Nama :…………………………………..
2. Umur/tgl.lahir :……… /…………………………
3. Jenis kelamin : Pria / Wanita*
4. Status : Kawin / belum kawin*
5. Jenis pekerjaan :…………………………………..
6. Pengalaman kerja : …………tahun,…………..bulan.
WAKTU PENGUKURAN: SEBELUM KERJA / SETELAH KERJA

II. KUESIONER 30 ITEMS KELELAHAN UMUM

NO DAFTAR PERTANYAAN

1 Apakah saudara merasa berat di bagian kepala?
2 Apakah saudara merasa lelah pada seluruh badan?
3 Apakah kaki saudara terasa berat?
4 Apakah saudara menguap?
5 Apakah pikiran saudara terasa kacau?
6 Apakah saudara merasa mengantuk?
7 Apakah saudara merasakan ada beban pada mata?
8 Apakah saudara merasa kaku atau canggung dalam bergerak?
9 Apakah saudara merasa sempoyongan ketika berdiri?
10 Apakah ada perasaan ingin berbaring?
11 Apakah saudara merasa susuh berfikir?
12 Apakah saudara merasa malas untuk bicara?
13 Apakah perasaan saudara menjadi gugup?
14 Apakah saudara tidak bisa berkonsentrasi?
15 Apakah saudara tidak bisa memusatkan perhatian terhadap sesuatu?
16 Apakah saudara punya kecenderungan untuk lupa?
17 Apakah saudara merasa kurang percaya diri?
18 Apakah saudara merasa cemas terhadap sesuatu?
19 Apakah saudara merasa tidak dapat mengontrol sikap?
20 Apakah saudara merasa tidak dapat tekun dalam pekerjaan?
21 Apakah saudara merasa sakit kepala?
22 Apakah saudara merasa kaku di bagian bahu?
23 Apakah saudara merasakan nyeri di punggung?
24 Apakah nafas saudara merasa tertekan / sesak?
25 Apakah saudara merasa haus?
26 Apakah suara saudara terasa serak?
27 Apakah saudara merasa pening?
28 Apakah kelopak mata saudara terasa kejang?
29 Apakah anggota badan saudara merasa gemetar/tremor?
30 Apakah saudara merasa kurang sehat?
KETERANGAN SKOR:
1: TIDAK LELAH
2: AGAK LELAH
3: LELAH
4: LELAHSEKALI

Read More..

KUESIONER NORDIC BODY MAP

PENGUJIAN GANGGUAN MSD’S [MUSCULOSKELETAL DISORDER] DENGAN 'NORDIC BODY MAP' [NBM]
Kuesioner Nordic Body Map ini saya entrikan ke dalam blog ini karena banyaknya permintaan dari para mahasiswa khususnya DIII Hiperkes dan Keselamatan kerja, DIV Kesehatan kerja, Teknik Industri, Poltekes, dsb. untuk itu smoga bermanfaat.

dalam penggunaan kuesioner ini harus hati-hati karena sangat subjektif, artinya sangat dipengaruhi oleh responden.
kuesioner NBM ini dalam penilaian dapat menggunakan "4 skala likert" dengan skala 1 s/d 4, atau dapat menggunakan 'YA' dan 'TIDAK'.
apabila menggunakan skala likert yang terpenting adalah penjelasan definisi operasional dari setiap skala. dan saya biasa menggunakan kuesioner ini untuk mengukur gangguan MSD's pada dua periode yaitu PRE TEST (sebelum kerja) dan POST TEST (setelah bekerja). dari total kedua skor PRE dan POST di uji dengan statistik spss untuk mengetahui kemaknaan perbedaan.

I. IDENTITAS PERSEORANGAN
(Tulislah identitas saudara atau coret yang tidak perlu)

1. Nama :…………………………………..
2. Umur/tgl.lahir :……… /…………………………
3. Jenis kelamin : Pria / Wanita*
4. Status : Kawin / belum kawin*
5. Jenis pekerjaan :…………………………………..
6. Pengalaman kerja : …………tahun,…………..bulan.

II. KUESIONER NORDIC BODY MAP [PENGUKURAN: SEBELUM KERJA / SETELAH KERJA]
NO JENIS KELUHAN

0 Sakit/kaku di leher bagian atas
1 Sakit/kaku di leher bagian bawah
2 Sakit di bahu kiri
3 Sakit di bahu kanan
4 Sakit pada lengan atas kiri
5 Sakit di punggung
6 Sakit pada lengan atas kanan
7 Sakit pada pinggang
8 Sakit pada bokong
9 Sakit pada pantat
10 Sakit pada siku kiri
11 Sakit pada siku kanan
12 Sakit pada lengan bawah kiri
13 Sakit pada lengan bawah kanan
14 Sakit pada pergelangan tangan kiri
15 Sakit pada pergelangan tangan kanan
16 Sakit pada jari-jari tangan kiri
17 Sakit pada jari-jari tangan kanan
18 Sakit pada paha kiri
19 Sakit pada paha kanan
20 Sakit pada lutut kiri
21 Sakit pada lutut kanan
22 Sakit pada betis kiri
23 Sakit pada betis kanan
24 Sakit pada pergelangan kaki kiri
25 Sakit pada pergelangan kaki kanan
26 Sakit pada jari kaki kiri
27 Sakit pada jari kaki kanan
JUMLAH SKOR:
KETERANGAN SKOR:
1: TIDAK SAKIT
2: AGAK SAKIT
3: SAKIT
4: SAKIT SEKALI


Read More..

Monday, December 29, 2008

KONSEP DASAR ERGONOMI

MEMAHAMI ERGONOMI
What is Ergonomics ?
Why must Ergonomics ?
Where is Ergonomics applied ?
When is Ergonomics applied ?
Who must apply Ergonomics ?
How is Ergonomics applied ?

Mengapa ERGONOMI ?
1. Perlunya pendekatan Holistik di dalam pembangunan untuk menekan dan menghapuskan dampak negatip.
2. Perlunya memenangkan kompetisi globalisasi

3. Perlunya optimasi kemampuan sumber daya manusia (SDM).

MANFAAT ERGONOMI
Pekerjaan lebih capat selesai.
Resiko kecelakaan lebih kecil
Man days / hours tidak banyak hilang.
Resiko penyakit akibat kerja menjadi kecil.
Gairah kerja lebih tinggi.
Ekstra biaya dapat ditekan.
Absensi rendah.
Kelelahan berkurang
Rasa sakit berkurang / tidak ada
dll.

PENDEKATAN APLIKASI ERGONOMI

Conceptual /System Ergonomics (pada saat Perencanaan): Ergonomi sangat tepat untuk diterapkan sebagai bagian dari perencanaan menyeluruh. To fit the job to the man.
Maksud: Upaya pertama kali yang harus dilakukan adalah menyesuaiakan pekerjaan (alat/mesin, cara kerja/organisasi kerja dan lingkungan kerja) terhadap manusia pekerja (kemampuan, kebolehan, dan batasan)
apabila usaha ini tidak berhasil karena alasan teknis dan ekonomis seperti; mesin terpaksa harus diimpor, maka…

Curative Ergonomics ( perbaikan / modifikasi ditempat kerja ); usaha memanfaatkan ergonomi untuk memperbaiki hal-hal yanng sudah ada/berjalan, dengan konsekuensi biaya lebih mahal. To fit the man to the job.

Read More..

Wednesday, December 17, 2008

TRAINING K3 SEBAGAI SUATU SISTEM

TRAINING FOR HEALTH AND SAFETY AS A SYSTEM
Untuk dapat menjalankan suatu bisnis atau usaha secara sukses, diperlukan suatu manajemen tentang kualitas produk atau servis, menejemen produktivitas dan sekaligus manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terhadap, baik orang-orang yang bekerja di dalam perusahaan, orang-orang yang berkaitan dengan perusahaan maupun orang-orang yang menggunakan produk. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mendiskripsikan suatu sistem manajemen secara jelas dan tepat [Dalam Buku: Keselamatan dan Kesehatan Kerja: Manajemen dan Implementasi K3 di Tempat Kerja, Penulis: TARWAKA,PGDip.Sc. M.Erg].

KERANGKA PERUNDANGAN TRAINING K3

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja mensyaratkan pentingnya penyelenggaraan training K3 untuk pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja di tempat kerja. Pada Bab V. Pasal 9 mensyaratkan diadakan pembinaan di perusahaan:
 Ayat 1: Menyatakan bahwa pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang: (a). Kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya serta yang dapat timbul dalam tempat kerjanya; (b). semua pengaman dan alat-alat perlindungan yang diharuskan dalam tempat kerjanya; (c). alat pelindung diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan; dan (d) cara-cara dan sikap kerja yang aman dalam meleksanakan pekerjaannya.
 Ayat 3: Menyatakan bahwa pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinaan bagi semua tenaga kerja yang berada dibawah pimpinannya, dalam pencegahan kecelakaan dan pemberantasan kebakaran serta peningkatan K3 dan P3K.

 Permenakertrans No.: Per/01/MEN/1976 tentang kewajiban latihan hiperkes bagi dokter perusahaan:
 Pasal 1: Menyatakan bahwa setiap perusahaan diwajibkan untuk mengirimkan setiap dokter perusahaannya untuk mendapatkan latihan dalam bidang Hyperkes dan KK.
 Permenakertrans No.: Per-01/MEN/1979 tentang kewajiban latihan Hiperkes dan KK bagi tenaga paramedis perusahaan:
 Pasal 1: Menyatakan bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga paramedis diwajibkan untuk mengirimkan setiap tenaga tersebut mendapatkan latihan dalam bidang Hyperkes dan KK.
 Permenakertrans No.: Per. 05/MEN/1978 tentang syarat-syarat K3 dalam pemakaian lift listrik untuk pengangkutan orang dan barang:
 Pasal 5: Menyatakan bahwa orang yang dikerjakan untuk memasang, membongkar, merawat dan melayani lif harus mempunyai kemampuan khusus dan atau telah mendapat latihan khusus.
 Permenaker No.: Per. 05/MEN/1985 tentang Pesawat angkat dan angkut:
 Pasal 4: Menyatakan bahwa setiap pesawat angkat dan angkut harus dilayani oleh operator yang mempunyai kemampuan dan telah memiliki ketrampilan khusus tentang pesawat angkat dan angkut.
 Permenaker No.: Per. 01/MEN/1988 tentang kwalifikasi dan syarat-syarat operator pesawat uap:
 Pasal 1 (e): Operator adalah tenaga kerja berkeahlian khusus untuk melayani pemakaian pesawat uap.
 Pasal 5 (1): Pelaksanaan kursus operator dapat dilakukan oleh Depnaker atau lembaga yang ditunjuk.

 Permenaker No.: Per. 01/MEN/1989 tentang kwalifikasi dan syarat-syarat operator keran angkat:
 Pasal 1 (e): Operator adalah tenaga kerja berkeahlian khusus untuk melayani pemakaian keran angkat
 Pasal 5 (1): Pelaksanaan kursus operator dapat dilakukan oleh Depnaker atau lembaga yang ditunjuk.

TRAINING SEBAGAI SUATU SISTEM

Training K3 adalah suatu proses pembelajaran yang lebih menekankan pada praktek daripada teori yang dilakukan oleh seseorang yang bekerja atau suatu kelompok unit kerja dengan menggunakan pendekatan belajar orang dewasa (andragogi) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dalam bidang K3.

Training sebagai suatu sistem sekurang-kurangnya terdiri dari 5 (lima) proses sebagai suatu subsistem yang terintegral, kelima sistem tersebut adalah:
1. Proses Identifikasi Kebutuhan Training
2. Proses Perencanaan Training
3. Proses Pengembangan Training
4. Proses Penyelenggaraan Training dan
5. Proses Evaluasi dan Pelaporan Training


PROSES I: IDENTIFIKASI KEBUTUHAN TRAINING

Kebutuhan training dapat diartikan sebagai suatu kesenjangan antara kemampuan dan ketrampilan yang diharapkan sebagai tuntutan pelaksanaan tugas secara optimal (what should be) dan kemampuan yang dimiliki (what is).

Identifikasi kebutuhan training adalah suatu studi secara sistematis dan sistemik dalam rangka pengambilan keputusan tentang perlu tidaknya dilakukan training

Tujuan identifikasi kebutuhan training:
 Untuk penetapan program training yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan
 Untuk efisiensi dalam beaya penyelenggaraan training
 Untuk membuat skala prioritas sesuai kebutuhan mendesak dari suatu training
 Untuk pembinaan dan pengembangan karier peserta

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Training
Faktor Internal organisasi yang mempengaruhi kebutuhan training antara lain:
 Adanya sumber bahaya di tempat kerja
 Adanya kekurang pengetahuan dan ketrampilan tenaga kerja untuk mengatasi suatu masalah yang selalu muncul di tempat kerja
 Adanya tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menghendaki adanya perubahan, dll.
Faktor Eksternal organisasi yang mempengaruhi kebutuhan training antara lain:
 Adanya peraturan perundangan yang mewajibkan untuk dipatuhi oleh suatu organisasi kerja
 Adanya tuntutan pasar terhadap pemenuhan standar mutu
 Adanya tranfer teknologi baru, dll.

PROSES II: PERENCANAAN PROGRAM TRAINING

Perencanaan program training meliputi serangkaian kegiatan yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Penentuan Tujuan dan Sasaran Training.
2. Waktu Pencapaian Program Training
3. Penanggung Jawab Program Training
4. Pendokumentasian dan Monitoring Penyelenggaraan Program Training

PROSES III: PENGEMBANGAN PROGRAM TRAINING
Pengembangan program training ini merupakan proses ketiga, dimana program training harus secara nyata disusun secara lengkap untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan pada proses sebelumnya.

Pada kenyataannya, banyak sekali jenis-jenis training K3 yang dapat dikembangkan dan diselenggarakan oleh internal perusahaan, terutama untuk tujuan dan materi yang menyangkut masalah yang spesifik di tempat kerja, antara lain;

Internal and In-the-job training; seperti:
 Tool box training yang dapat dilakukan oleh supervisor di tempat kerja
 Induction training
 Training tentang penanganan sumber bahaya tertentu
 Training tentang penggunaan alat pelindung diri, dll.

Individual and self-directed Training; seperti:
 Belajar dari rekaman video tentang SMK3 yang dapat diikuti secara individu sesuai dengan kebutuhan masing-masing
 Belajar program K3 melalui database komputer, dll.


PROSES IV: PENYELENGGARAAN TRAINING
Agar penyelenggaraan training dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan, maka penyelenggara atau penanggung jawab kegiatan harus melakukan persiapan yang matang tentang berbagai hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan training seperti:
 Pembentukan tim penyelenggara (jika diperlukan), dengan penugasan masing-masing termasuk pemantauan, penilaian, dan bimbingan peserta
 Penentuan dan pemilihan trainer sesuai bidang ajar training
 Persiapan sarana dan prasarana training yang diperlukan
 Penyiapan materi training untuk peserta
 Penetapan dan pemilihan peserta sesuai jenis training
 Khusus untuk training yang diselenggarakan oleh pihak eksternal, penanggung jawab tinggal melakukan koordinasi dengan pihak penyelenggara atau perusahaan jasa K3 yang telah ditunjuk.

Dalam pelaksanaannya, training dapat dilakukan baik secara klasikal dengan tatap muka di kelas dan atau non klasikal seperti on-the-job training. Selanjutnya tugas penyelenggara dalam pelaksanaan training antara lain meliputi:
 Pemantauan terhadap pelaksanaan program proses training sesuai jadwal yang disusun, baik yang berkaitan dengan trainer, peserta, media pembelajaran, sarana dan prasarana.
 Pemantauan terhadap pelayanan fasilitas penyelenggaraan training
 Pemantauan terhadap komplain kekurangan dalam penyelenggaraan training.

PROSES V: EVALUASI TRAINING
Proses evaluasi menempati posisi yang cukup strategis di dalam penyelenggaraan program training secara keseluruhan. Mengingat pentingnya proses evaluasi ini, maka tidak ada suatu usaha yang dapat dilakukan untuk memperbaiki mutu training jika tidak diakhiri dengan proses evaluasi. Sedangkan manfaat dari evaluasi training setidak-tidaknya adalah:
 Membantu memahami sesuatu yang telah dilaksanakan
 Membantu untuk membuat keputusan tentang apa yang akan direncanakan dan dilaksanakan untuk program yang akan datang
 Meningkatkan kualitas training yang akan datang


KESIMPULAN
1. Training K3 bukanlah suatu alternatif yang murah untuk dapat memindahkan atau menghilangkan hazard dari sumbernya.
2. Training K3 merupakan bagian integral dari strategi menejemen K3 perusahaan.
3. Training K3 diperlukan untuk penerapan kebijakan perusahaan dan prosedur kerja, untuk memelihara dan menggunakan sistem informasi K3 dan agar para menejer mampu memenuhi peran dan tanggung jawabnya dalam bidang K3.
4. Kualitas training K3 memerlukan pengorbanan beaya, waktu dan komitmen bersama.
5. Tanpa adanya pendekatan yang terstruktur, penyelenggaraan training tidaklah akan efektif dan bahkan menjadi kontra produktif.

Read More..

Friday, December 5, 2008

PENGANTAR PRODUKSI BERSIH

PRODUKSI BERSIH [CLEANER PRODUCTION- CP]

CP merupakan suatu strategi pengelolaan lingkungan yang ditujukan untuk mencegah dan atau memperkecil dampak negatif yang timbul dari proses produksi barang dan jasa di berbagai sektor industri

CP merupakan strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat PREVENTIF dan INTEGRATIF dan diterapkan secara kontinue dalam proses produksi dan daur hidup produk guna mengurangi resiko terhadap manusia dan lingkungan

Inti Implementasi CP adalah mencegah, mengurangi dan menghilangkan terbentuknya limbah/pencemar pada sumbernya.

ISU-ISU YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN LINGKUNGAN HIDUP

Meningkatnya Produksi limbah per tahun
Banyak limbah yang sulit diolah
Biaya pengolahan dan pembuangan limbah mahal
Mengolah limbah lebih mahal drpd mencegah terbentuknya limbah
Mengolah limbah hanya mentransfer limbah dari media satu ke media yang lain
Pencemaran lingkungan terus berlanjut
Peraturan perundangan belum mencakup usaha pencegahan dan masih terfokus pada pengelolaan dan pembuangan
Dampak globalisasi daya saing produk pada pasar international

CLEANER PRODUCTION STRATEGIES

Mencegah, mengurangi dan menghilangkan terbentuknya limbah pada sumbernya

Modifikasi proses produksi dengan metode pendekatan siklus daur hidup [Life Cycle Approach]: Produk dan Jasa sesuai kebutuhan konsumen dan juga aman terhadap lingkungan

Penghematan biaya produksi berarti memberikan keuntungan finansial perusahaan

CLEANER PRODUCTION APPROACH
1. REFINE
Pencarian alternatif bahan/proses yg lebih ramah lingkungan untuk mengganti bahan/proses yang telah ada

2. REDUCE
Pengurangan jumlah limbah dg optimalisasi proses produksi Pengurangan jumlah limbah dg optimalisasi proses produksi

3. REUSE
Pemakaian kembali limbah untuk digunakan dalam proses yang berbeda

4. RECYCLE
Memutar kembali limbah untuk digunakan dalam proses yang berbeda

5. RECOVERY
Pengambilan kembali sebagian material penting dari limbah untuk pemanfaatan ulang di dalam proses atau dimanfatkan untuk keperluan lain

6. RETRIEVE TO ENERGY
Pemanfaatan limbah untuk digunakan sebagai bahan bakar atau penghematan energi dalam setiap operasional perusahaan

CLEANER PRODUCTION IMPLEMENTATION
1. CHANGE IN RAW MATERIAL
Mengurangi/menghilangkan bhn baku yg mengandung B3
Menggunakan bhn baku dg kualitas yg baik dan murni untuk menghindari kontaminan dalam proses
Menggunakan material daur ulang untuk menciptakan pasar material daur ulang

2. IMPROVED OPERATING AND HOUSE KEEPING PRACTICE

Lost prevention dg mencegah kehilangan bahan baku, produk maupun energi dari pemborosan, kebocoran dan tercecer
Kehilangan material akibat kesalahan penanganan perlu dikurangi
Penjadwalan produksi dan koordinasi pengelolaan limbah
Segresi/memisahkan limbah menurut jenisnya
Manajemen perawatan
Inventarisasi bhn baku, energi, air, produk dan peralatan

3. ON-SITE REUSE
Menggunakan kembali sisa air proses, air pendingin dan material lain di dalam pabrik
Mengambil kembali bahn buangan sbg energi
Menciptakan kegunaan limbah sbg produk sampingan yg dpt digunakan oleh pihak luar

4. TECHNOLOGY CHANGE
Merubah peralatan, lay out dan pemipaan untuk perbaikan aliran proses
Memperbaiki kondisi proses (suhu, waktu tinggal, laju alir, tekanan) shg kualitas produk meningkat dan limbah berkurang
Menghindari solvent B3 untuk pencucian mesin-mesin
Otomatisasi peralatan dan mesin-mesin

5. PRODUCT CHANGE
Merubah formulasi produk untuk mengurangi dampak lingkungan saat produk digunakan konsumen
Menambah umur produk
Produk mudah didaur ulang
Mengurangi kemasan yg tidak perlu

Read More..

Wednesday, December 3, 2008

PENGELOLAAN LIMBAH B3

PENGELOLAAN LIMBAH B3

“…… setiap limbah yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak dan/atau mencemarkan lingkungan hidup dan/atau dapat membahayakan kesehatan manusia.”


Latar Belakang

B3: Bahan Berbahaya dan Beracun, >75% B3 merupakan sumbangan dari sektor industri melalui limbahnya,Sisanya berasal dari sektor lain termasuk rumah tangga yang menyumbang 5-10% dari total limbah B3 yang ada.
Peningkatan jumlah limbah B3 di Indonesia antara kurun waktu 1990 – 1998 mencapai 100%.
Tahun 1990 sekitar 4.322.862 ton dan pada tahun 1998 mencapai 8.722.696 ton. Dan terus akan naik.


B3 dan Permasalahannya

Lintas batas limbah B3 dari LN
Ekspor limbah dari negara-negara maju sulit dibendung
Banyak terjadi kasus ilegal dumping dari kapal LN yang mengangkut limbah B3 secara tersembunyi dan membuangnya ke perairan Indonesia
Lintas batas pembuangan limbah B3 ini sering terselubung dalam bentuk bahan baku seperti plastik bekas
Thn 1992: Sebanyak 116 peti kemas limbah B3 seberat 1200 ton yang berasal dari pelabuhan Singapura ditemukan di pelabuhan Tanjung Periuk.
Dari 1 Februari sampai 31 Maret 1992 telah dikapalkan sampah plastik dari USA sebanyak 52.227.368 puond dalam 749 pengapalan ke berbagai tujuan di Asia (dari Multinational Monitor -Juni, 1992).

Sejak diberlakukannya pelarangan impor limbah B3, sampai Mei 1994 terdapat 260 kontainer dari berbagai negara yang 95 diantaranya ternyata berkategori B3, yaitu 65 kontainer dari Belanda, 21 dari Singapura, 5 dari Jerman, 1 dari Jepang, 1 dari Korea Selatan dan 2 kontainer lagi tidak jelas asalnya.

Dari hasil proyeksi jumlah limbah B3 yang dilakukan oleh BAPEDAL, sampai tahun 2020 akan terdapat 60 juta ton total limbah B3 yang bermukim di Indonesia dan menunggu sewaktu-waktu untuk menjadi sebuah tragedi yg mengerikan.

Upaya Pengelolaan Limbah B3

Pertama, adalah penerapan “produksi bersih dan minimisasi limbah” bagi industri.
Teknologi end pipe treatment merupakan teknologi kuno (sunset technology) yang telah lama ditinggalkan.

Mengganti teknologi dari end pipe treatment menjadi clean technology,

Konsep clean technology melalui minimisasi limbah industri dengan model reduce; recycle; reused; recovery dan recuperation, dapat mengurangi cost production, meskipun pada awalnya dibutuhkan investasi yang cukup besar.


Kedua, adalah pembenahan sistem hukum dan peraturan yang telah ada.
Peraturan yang ada seperti AMDAL masih jauh dari mencukupi untuk melakukan pengelolaan limbah, khususnya limbah B3.
Indonesia sebenarnya telah meratifikasi Konvensi Basel melalui Kepres RI no. 61/1993 tentang Pengesahan Convension on The Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal.
Lemahnya supremasi hukum di Indonesia inilah yang menjadikan seringnya kecolongan baik industri lokal maupun dari luar negeri.

Ketiga adalah sesegera mungkin membereskan kelembagaan lingkungan hidup di Indonesia yang memang mempunyai posisi yang lemah. Kedudukan Bapedal misalnya, yang hanya berfungsi secara koordinatif, sehingga seringkali ketika muncul persoalan dalam hal pencemaran lingkungan hidup, hanya fungsi administratif saja yang dijalankan oleh Bapedal,

Keempat yaitu melakukan evaluasi, inventarisasi dan pengembangan terhadap sumber daya yang kita miliki.

Kelima adalah adanya transparansi informasi kepada masyarakat luas, sehingga ada partisipasi aktif dari masyarakat untuk ikut serta dalam usaha pelestarian lingkungan hidup. Salah satunya adalah sosialisasi informasi mengenai limbah B3. Dengan begitu ada keterlibatan seluruh stakeholders secara seimbang dan aktif untuk memecahkan setiap persoalan lingkungan hidup.

Read More..